Monday, 19 December 2011

Mantan Sahabat ???

Foto-foto di sudut kamar mungilku dengan berbagai gaya narsiznya, mulai dari senyum norak sampai senyum sok manis, menghiasi view tempat rehatku. Membawa ingatanku ke masa itu.

Mereka cantik-cantik, ya karena ada aku salah satunya (hehe..). Semoga cantik juga hatinya. Amiin...

Tuhan mempertemukan kami di kampus hijau itu. Hari-hariku begitu berwarna di tengah-tengah mereka. Setiap detik waktu kami lalui dengan fun. Meski terkadang terpaksa di fun-fun-in karena beberapa mata kuliah yang cukup menerkam jantung. Tapi hal tersebut tidak menghambat rutinitas 'gilak2an' kami. Kalau boleh dibilang, tiada hari tanpa 'gilak2an'. Yah, segila apapun kami, kelas akan terasa hambar tanpa kami. Bagai sayur tanpa garam mungkin ya istilah populernya. Perlu untuk diketahui, ini bukan spekulasi,tapi fakta.
Dengan berbagai karakter yang bertengger di kepala kami, perlu usaha yang cukup untuk menjadikannya kombinasi yang enak dipandang mata. Komposisinya cukup lengkap, mulai dari cerewet, kalem, cuek, lola (loading lama), lanang celup (lambat nangkap cepat lupa), sensitif, tomboy, sabar juga ada. Dan semua itu bersatu dalam satu kata, "D' Narsiz". Tak tahu dari dunia antah berantah mana istilah itu ada. Istilat itu terlahir begitu saja karena kebiasaan berfoto kami yang melampaui SKS mata kuliah. Sesaat ada kesempatan, langsung jepret. Seolah-olah ada mata kuliah tambahan, "foto-foto 8 SKS".

Sebenarnya dan sesungguhnya tidak semua dari kami hobi berfoto, termasuk aku, tapi virus mereka memang tak terprediksi kecepatannya. Alhasil, aku cukup terinfeksi penyakit akut ini. Tapi aku ambil positifnya, setidaknya derajat ke-pede-anku bertambah beberapa centi. Persahabatan ini tidak berjalan mulus-mulus saja. Beberapa konflik sempat singgah di tengah-tengah kami. Entah apa maksud dan tujuannya, tapi aku tahu ini adalah proses pendewasaan bagi kami. Jelas tidak enak rasanya. Tapi tetap makanan tambahan ini harus kami lahap dengan cepat agar rasa tidak enaknya hilang. Kesal, sedih, serta tangis menjadi bumbu dalam proses melaui badai yang tak disangka-sangka ini. Ya, memang tidak ada yang sia-sia. Setiap kerikil yang menyentuh persahabatan kami, kami singkirkan satu demi satu hingga tak tersisa. Karena kami sadar, kami satu. Kami datang ke kampus ini untuk tujuan yang sama. Menuntut ilmu. Meski tidak semua mata kuliah kami paham dengan baik, tapi kami berusaha saling mengisi setiap kekosongan. Tidak hanya dengan berfoto tentunya, tapi juga dengan saling mengajari.  Masih teringat lekat di kepalaku, saat-saat kami sedang kuiz. Kalkulus, Analisi Real, Teori Bilangan, sederetan mata kuliah yang berhasil memacu keringat dingin untuk berlomba-lomba keluar dari pori-pori kulit. Dan harus kuliah melebihi batas jam kuliah normal, mengerjakan tugas kelompok sampai waktu isya' tiba sehingga baru sampai di rumah pukul 22.30. Semua itu masih terekam jelas. Dua tahun bukan waktu yang singkat buatku untuk mengenal mereka dengan berbagai jadwal padat kami. Hingga aku dipilihkan jalan lain oleh tuhan untuk menuju masa depanku.Tentu konsekuensinya, bukan hanya gedung MIPA itu yang akan aku tinggalkan, tetapi juga teman-teman terbaikku di sana.

Begitu banyak hal yang aku dapatkan dari mereka. Pengalaman-pengalaman berharga itu akan aku bawa ke pulau itu. Andai boleh, ingin rasanya aku bawa mereka ke perantauan itu. Tapi setidaknya kertas tebal persegi panjang berisi aktivitas narsiz kami dulu, menjadi pengobat rinduku pada mereka. Aku tahu bahwa mereka jiwa-jiwa yang tangguh. setangguh karang di lautan yang takkan rapuh diterpa gelombang perkuliahan sedahsyat apapun. Terimakasih buat D'Narsiz dan teman-teman sekelas untuk segalanya, termasuk acara di lantai 3 jurusan. Unforgettable...
Meski terpisah ruang dan waktu, tidak ada istilah 'mantan sahabat'. I'm so glad to be part of you... :)

"Spesial for D'Narsiz and my Dik MAT B 08 UNIMED friends"