Yey, nulis lagi………………. Pengen nulis
baru keturutan sekarang. Sesibuk apa sih irda??? Mau tau??? :P Niatnya aja yang
belum kuat sih emang. Sore-sore gini abis kuliah sambil nunggu donlot-an PSAK
(haha, edisi rajin) mending buat oret2an asik kayaknya. Mungkin aja ada yang
minat baca :D (ngarep..)
Nah, edisi kali ini saya lagi
pengen ngobrolin soal syukur. Saya juga bingung mau mulai darimana. Kalo diliat
dari asal katanya, syukur itu semakna dengan syukron yang berarti terima kasih.
Pertanyaannya adalah terimakasih kepada siapa??? Tentu berterima kasih kepada
yang memberi, baik itu sesuatu yang kita minta atau tidak. Namanya juga diberi.
Begitu juga halnya terhadap apapun yang Tuhan berikan kepada kita. Kalau mau
dihitung-hitung nikmat yang Tuhan berikan, air di lautan sekalipun tidak akan
cukup untuk menuliskannya. Begitu kurang lebih isi salah satu dalil quran, saya
lupa surat apa. Waw, lihat begitu sayangnya DIA kepada kita yang kita sendiri
masih sering lalai dari mengingat-NYA.
Setiap udara yang kita hirup,
makanan yang kita makan dengan rizkinya, kesehatan, keluarga yang rukun,
teman-teman yang baik, kemudahan dalam pekerjaan, hati yang bahagia adalah
sederetan hal-hal yang patut kita syukuri. Sekecil apapun nikmat itu hendaknya
disyukuri. Kalau Yusuf Mansur bilang biasakan melihat orang yang di bawah,
jangan melihat orang yang lebih di atas kita. Di dalam sebuah dalil,
“Dan janganlah engkau tunjukkan
pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa
golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka
dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu
lebih baik dan lebih kekal.(Thaha: 131).
Karena kita, manusia sering sekali
membandingkan dengan orang yang kemampuannya lebih dari kita. Memang sifat dasar
manusia itu tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilkinya. Untuk itulah
kita beragama. Agama telah mengajarkan bagaimana sebaiknya kita bersikap. Tuhan
itu menyukai orang kaya yang dermawan, tapi DIA lebih menyukai orang miskin
yang dermawan. Begitu petikan ceramah Yusuf Mansur.
Dan tadi ketika kuliah, nilai UTS
dibagi. Alhamdulillah nilai saya tidak lulus batas minimal, tapi bapak dosen
baik menambah nilai sehingga saya lulus nilai minimal dan tidak perlu mengerjakan
tugas. Meskipun masih ada teman-teman yang tetap harus mengerjakan tugas karena
meski didongkrak tetap tidak melewati batas minimal. Tapi hasilnya sama-sama
lulus semua :). Ini juga salah satu nikmat Tuhan yang harus disyukuri.
Bagaimana tidak, yang menggerakkan hati bapak dosen baik itu untuk mendongkrak
nilai siapa? Tentu yang memiliki hati. “Aku tidak tahu ini rahmat atau musibah,
aku hanya ingin berprasangka baik pada Allah”.
Sebuah kalimat yang sangat saya sukai yang saya dapatkan dari kakak
tingkat, petikan kisah pada zaman Rasul. Bisa jadi ini sebagai warning bagi saya untuk lebih giat
belajar dan juga sekaligus warning
supaya saya lebih dekat dengan-NYA. Karena bisa saja Tuhan mengingatkan kita lewat
jalan-jalan kesusahan. Tapi rahmat-NYA begitu luas. Dengan segala keterbatasan
kita dalam mencapai sesuatu, ada DIA yang Maha Tak terbatas dan punya
segalanya. So, jadda trus bro! :D
Yang terpenting adalah sebisa
mungkin kita biasakan syukur untuk sekecil apapun nikmat. Ini adalah nasehat
untuk kita semua, terlebih saya. Karena DIA akan menambah nikmat bagi siapa
yang bersyukur. Enak kayaknya kalau bisa jadi orang yang pandai bersyukur ^^
(amiin)
Terakhir, saya akan mengambil
kata-kata Ahmad Fuadi, Penulis Novel Negeri 5 Menara, sebagai amunisi pelengkap
melawan degradasi semangat :D
“Tuhan
bersama orang yang selalu berusaha
dan
Tuhan Maha Mendengar”