Monday, 18 June 2012

Syukur Itu ...


Yey, nulis lagi………………. Pengen nulis baru keturutan sekarang. Sesibuk apa sih irda??? Mau tau??? :P Niatnya aja yang belum kuat sih emang. Sore-sore gini abis kuliah sambil nunggu donlot-an PSAK (haha, edisi rajin) mending buat oret2an asik kayaknya. Mungkin aja ada yang minat baca :D (ngarep..)
Nah, edisi kali ini saya lagi pengen ngobrolin soal syukur. Saya juga bingung mau mulai darimana. Kalo diliat dari asal katanya, syukur itu semakna dengan syukron yang berarti terima kasih. Pertanyaannya adalah terimakasih kepada siapa??? Tentu berterima kasih kepada yang memberi, baik itu sesuatu yang kita minta atau tidak. Namanya juga diberi. Begitu juga halnya terhadap apapun yang Tuhan berikan kepada kita. Kalau mau dihitung-hitung nikmat yang Tuhan berikan, air di lautan sekalipun tidak akan cukup untuk menuliskannya. Begitu kurang lebih isi salah satu dalil quran, saya lupa surat apa. Waw, lihat begitu sayangnya DIA kepada kita yang kita sendiri masih sering lalai dari mengingat-NYA.
Setiap udara yang kita hirup, makanan yang kita makan dengan rizkinya, kesehatan, keluarga yang rukun, teman-teman yang baik, kemudahan dalam pekerjaan, hati yang bahagia adalah sederetan hal-hal yang patut kita syukuri. Sekecil apapun nikmat itu hendaknya disyukuri. Kalau Yusuf Mansur bilang biasakan melihat orang yang di bawah, jangan melihat orang yang lebih di atas kita. Di dalam sebuah dalil,
“Dan janganlah engkau tunjukkan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu.  Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.(Thaha: 131).
Karena kita, manusia sering sekali membandingkan dengan orang yang kemampuannya lebih dari kita. Memang sifat dasar manusia itu tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilkinya. Untuk itulah kita beragama. Agama telah mengajarkan bagaimana sebaiknya kita bersikap. Tuhan itu menyukai orang kaya yang dermawan, tapi DIA lebih menyukai orang miskin yang dermawan. Begitu petikan ceramah Yusuf Mansur.
Dan tadi ketika kuliah, nilai UTS dibagi. Alhamdulillah nilai saya tidak lulus batas minimal, tapi bapak dosen baik menambah nilai sehingga saya lulus nilai minimal dan tidak perlu mengerjakan tugas. Meskipun masih ada teman-teman yang tetap harus mengerjakan tugas karena meski didongkrak tetap tidak melewati batas minimal. Tapi hasilnya sama-sama lulus semua :). Ini juga salah satu nikmat Tuhan yang harus disyukuri. Bagaimana tidak, yang menggerakkan hati bapak dosen baik itu untuk mendongkrak nilai siapa? Tentu yang memiliki hati. “Aku tidak tahu ini rahmat atau musibah, aku hanya ingin berprasangka baik pada Allah”.  Sebuah kalimat yang sangat saya sukai yang saya dapatkan dari kakak tingkat, petikan kisah pada zaman Rasul. Bisa jadi ini sebagai warning bagi saya untuk lebih giat belajar dan juga sekaligus warning supaya saya lebih dekat dengan-NYA. Karena bisa saja Tuhan mengingatkan kita lewat jalan-jalan kesusahan. Tapi rahmat-NYA begitu luas. Dengan segala keterbatasan kita dalam mencapai sesuatu, ada DIA yang Maha Tak terbatas dan punya segalanya. So, jadda trus bro! :D
Yang terpenting adalah sebisa mungkin kita biasakan syukur untuk sekecil apapun nikmat. Ini adalah nasehat untuk kita semua, terlebih saya. Karena DIA akan menambah nikmat bagi siapa yang bersyukur. Enak kayaknya kalau bisa jadi orang yang pandai bersyukur ^^ (amiin)
Terakhir, saya akan mengambil kata-kata Ahmad Fuadi, Penulis Novel Negeri 5 Menara, sebagai amunisi pelengkap melawan degradasi semangat :D

“Tuhan bersama orang yang selalu berusaha
dan
 Tuhan Maha Mendengar”






No comments:

Post a Comment