Friday, 17 August 2012

Einsten Bilang 99%


Hari ini adalah tepat hari ke 17 aku di rumah sejak kepulanganku dari Bintaro :) . Berhubung udah lama gak coret-coret, ya udah nulis aja lah yaa sore ni. Sebenarnya Cuma mau bikin dikit catetan aja. Karena belakangan sering berseliweran pemikiran tentang orang-orang yang aku temui dalam perjalanan hidupku (assseeek :p) .
Jujur aja, mereka-mereka yang aku kenal meski gak semuanya aku kenal dengan baik, sedikit banyaknya memberikan pengajaran yang luar biasa. Karena dari orang lain kita bisa mempelajari karakter orang dan mengevaluasi diri. Ada orang yang sabarnya ‘gak ngerti lagi’. Dari dia kita belajar bagaimana mengolah hati supaya bisa menekan emosi sampai titik terendah. Selain itu, ada orang yang benar2 ringan tangan membantu orang lain tanpa pikir panjang. Dari orang ini kita belajar lebih peduli dengan orang lain.  Sebaliknya ada orang yang serba itung-itungan. Mau bantu, takut ini, takut itu. Ada masalah kecil dibesar2in. Nah.. ini juga jadi bahan pelajaran dan perenungan. The first sence kita ketemu orang kayak gini pasti kesel. Maka dari itu, jangan bersikap seperti itu kalo udah tau ngeselinnya gimana. Ya, kalaupun belum tau rasanya gimana, minimal coba ngerasain. Supaya saraf peka kita ini ON  terus :D. Dan semoga cepat berubah sikapnya itu orang jadi nyenengin :)
Percaya gak percaya 99% diri kita ini bentukan lingkungan. Einsten sendiri mengatakan bahwa kita itu memiliki 1% bakat, sedang sisanya adalah lingkungan. Jadi, sikap bijak dalam memilih lingkungan atau menempatkan diri dalam seperti apapun lingkungan itu sangat penting. Cukup ambil yang baik-baik, tinggalkan yang buruk. Lebih sesuatu lagi kalau kita bisa bermanfaat buat orang lain. Dan jangan lupa, sekecil apapun kebaikan itu akan ada ganjarannya lhoo :) .
Di dalam sebuah lingkungan apapun itu namanya baik persahabatan, pertemanan, organisasi, pasti ada saja yang namanya konflik. Itu hal yang wajar. Karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda. Fokus pentingnya sebenarnya bukanlah pada konfliknya, tapi bagaimana kita menyelesaikan konflik tersebut. Dari situlah kita akan mengetahui bagaimana karakter asli seseorang. Sebenarnya itu adalah kata2 tentor saya. Beliau bilang, jika ingin mengetahui karakter asli seseorang, lihat bagaimana dia menghadapi masalah. Tapi, kalau dipikir2 memang ada benarnya. Dalam keadaan normal tentu orang akan mudah mengolah sikap, tapi ketika tertekan akan sulit mengontrol diri. Mungkin di sini perlunya manajemen hati :).
Saya pernah membaca note fesbuk salah seorang teman, yang intinya mengatakan bahwa sebenarnya karena banyaknya pribadi pemaaf lah yang menjadikan sikap kita dimaklumi oleh orang lain. Dan saya membenarkan kalimat itu. Coba bayangkan kalau kita tidak bisa mentolerir sikap teman2 kita yang menurut kita tidak sesuai, bisa makan hati terus. Mending kalau hati beneran :D . Atau sebaliknya, sikap kita yang tidak bisa ditolerir oleh orang lain, cepat-cepat bertaubat :D. Kembali ke jalan yang benar ya nak :D
Salah satu solusinya mungkin adalah EMPATI, berusaha merasakan apa yang orang lain rasakan. Meski tidak benar2 tau rasanya, setidaknya ada usaha untuk memahami keadaan orang lain. Yakinilah, apa yang kita lakukan dari hati, pasti akan tembus ke hati meski yang bersangkutan gak tau :) .
Bisa jadi, sikap kurang menyenangkan dari orang lain adalah cermin buat diri kita. Mungkin saja kita pernah berbuat seperti itu kepada orang lain. Buka lebar2 hati dan pikiran untuk menerima nasehat diri. Kita diajarkan oleh agama untuk membalas kejahatan dengan kebaikan. Meski sulit, bukankah balasan di sisi-NYA itu lebih baik dari apapun???
Tuhan itu tidak tidur. DIA Maha Tahu. DIA Maha Memperhitungkan. Kasih sayang-NYA meliputi langit dan bumi. Kekuasaan-NYA meliputi segalanya.

SEMANGAT Khairunnas Anfa’uhum Linnas ! Sebesar zarrah pun akan ada ganjarannya :) .

No comments:

Post a Comment