Hari ini adalah tepat hari ke 17
aku di rumah sejak kepulanganku dari Bintaro :) . Berhubung udah lama gak
coret-coret, ya udah nulis aja lah yaa sore ni. Sebenarnya Cuma mau bikin dikit
catetan aja. Karena belakangan sering berseliweran pemikiran tentang
orang-orang yang aku temui dalam perjalanan hidupku (assseeek :p) .
Jujur aja, mereka-mereka yang aku
kenal meski gak semuanya aku kenal dengan baik, sedikit banyaknya memberikan
pengajaran yang luar biasa. Karena dari orang lain kita bisa mempelajari
karakter orang dan mengevaluasi diri. Ada orang yang sabarnya ‘gak ngerti lagi’.
Dari dia kita belajar bagaimana mengolah hati supaya bisa menekan emosi sampai
titik terendah. Selain itu, ada orang yang benar2 ringan tangan membantu orang
lain tanpa pikir panjang. Dari orang ini kita belajar lebih peduli dengan orang
lain. Sebaliknya ada orang yang serba
itung-itungan. Mau bantu, takut ini, takut itu. Ada masalah kecil dibesar2in.
Nah.. ini juga jadi bahan pelajaran dan perenungan. The first sence kita ketemu orang kayak gini pasti kesel. Maka dari
itu, jangan bersikap seperti itu kalo udah tau ngeselinnya gimana. Ya, kalaupun
belum tau rasanya gimana, minimal coba ngerasain. Supaya saraf peka kita ini
ON terus :D. Dan semoga cepat berubah sikapnya itu orang jadi nyenengin :)
Percaya gak percaya 99% diri kita
ini bentukan lingkungan. Einsten sendiri mengatakan bahwa kita itu memiliki 1%
bakat, sedang sisanya adalah lingkungan. Jadi, sikap bijak dalam memilih
lingkungan atau menempatkan diri dalam seperti apapun lingkungan itu sangat
penting. Cukup ambil yang baik-baik, tinggalkan yang buruk. Lebih sesuatu lagi
kalau kita bisa bermanfaat buat orang lain. Dan jangan lupa, sekecil apapun
kebaikan itu akan ada ganjarannya lhoo :) .
Di dalam sebuah lingkungan apapun
itu namanya baik persahabatan, pertemanan, organisasi, pasti ada saja yang
namanya konflik. Itu hal yang wajar. Karena setiap orang memiliki pandangan
yang berbeda. Fokus pentingnya sebenarnya bukanlah pada konfliknya, tapi
bagaimana kita menyelesaikan konflik tersebut. Dari situlah kita akan
mengetahui bagaimana karakter asli seseorang. Sebenarnya itu adalah kata2 tentor
saya. Beliau bilang, jika ingin mengetahui karakter asli seseorang, lihat
bagaimana dia menghadapi masalah. Tapi, kalau dipikir2 memang ada benarnya.
Dalam keadaan normal tentu orang akan mudah mengolah sikap, tapi ketika
tertekan akan sulit mengontrol diri. Mungkin di sini perlunya manajemen hati
:).
Saya pernah membaca note fesbuk
salah seorang teman, yang intinya mengatakan bahwa sebenarnya karena banyaknya
pribadi pemaaf lah yang menjadikan sikap kita dimaklumi oleh orang lain. Dan
saya membenarkan kalimat itu. Coba bayangkan kalau kita tidak bisa mentolerir
sikap teman2 kita yang menurut kita tidak sesuai, bisa makan hati terus.
Mending kalau hati beneran :D . Atau sebaliknya, sikap kita yang tidak bisa
ditolerir oleh orang lain, cepat-cepat bertaubat :D. Kembali ke jalan yang
benar ya nak :D
Salah satu solusinya mungkin
adalah EMPATI, berusaha merasakan apa yang orang lain rasakan. Meski tidak
benar2 tau rasanya, setidaknya ada usaha untuk memahami keadaan orang lain.
Yakinilah, apa yang kita lakukan dari hati, pasti akan tembus ke hati meski
yang bersangkutan gak tau :) .
Bisa jadi, sikap kurang
menyenangkan dari orang lain adalah cermin buat diri kita. Mungkin saja kita
pernah berbuat seperti itu kepada orang lain. Buka lebar2 hati dan pikiran
untuk menerima nasehat diri. Kita diajarkan oleh agama untuk membalas kejahatan
dengan kebaikan. Meski sulit, bukankah balasan di sisi-NYA itu lebih baik dari
apapun???
Tuhan itu tidak tidur. DIA Maha
Tahu. DIA Maha Memperhitungkan. Kasih sayang-NYA meliputi langit dan bumi.
Kekuasaan-NYA meliputi segalanya.
SEMANGAT Khairunnas Anfa’uhum
Linnas ! Sebesar zarrah pun akan ada ganjarannya :) .
No comments:
Post a Comment