Rindu …
Rasa itu akan muncul
dengan serta merta tanpa peduli ketika kita merasa sangat ingin bertemu,
bercengkrama atau apapun yang dapat menebus rasa itu. Suasana, tempat, ataupun
orang2nya adalah penyebab datangnya. Bahkan tangis pun bisa pecah saat puncak
kerinduan menerpa. Terlebih untuk seorang perantau yang habis masa2 bangku
kuliah, memasuki periode sebenarnya. Jangan ditanya bagaimana kerinduan
terhadap kampung halaman. Jangan ditanya bagaimana hari2mu sekarang. Tidakkah
kau ingin bertemu sebentar dengan keluarga juga teman2mu di tempat kelahiranmu?
Aku rasa pertanyaan yang semua orang juga tahu jawabannya. Siapa yang tak rindu
rumah, halaman belakang yang sejuk dengan pepohonan hijaunya, masakan ibu “sayur
daun ubi” ditemani ikan asin juga sambel merah ikan selar (wew), ribut sama
kakak :D, tawa canda bersama abang sambil rebutan channel tv, gimana gak
rebutan, si abang maunya bola akunya ftv, haha. Ya, itulah beberapa kegiatanku
kalo pulang pas libur kuliah. Sekarang? Aku memilih untuk stay di sini (red:
perantauan) dengan magang sambil menunggu penghidupan dan yang bersedia
menghidupiku, haha. Salah fokus. Poinnya adalah ingin mencoba sesuatu yang baru.
Prinsipnya setiap orang pasti memiliki berbagai pertimbangan atas setiap pilihannya.
So, hargai aja :D.
Kalo ditanya tentang
rindu, banyak hal yang aku rindukan. Keluarga pasti, teman2 kuliah juga (karena
udah pada dimana berkiprah), suasana kampus plus kegiatannya. Ini wajar2 aja,
biasa kalo memasuki fase baru pasti begitu. Jadi, ya dinikmatin aja prosesnya.
Karena biasanya dalam suatu proses ada banyak hal yang bisa jadi guru. Tidak
ada yang kebetulan. Aku percaya itu ;) .
Jadi, merindu itu
hukum alam bagi seorang perantau. Suatu saat aku pasti pulang, begitu juga
dengan pulangnya kita kepada-Nya. Bertemu mereka dengan senyum tegas. Rasa
rindu yang tak pernah pudar dalam segala musim dan peristiwa.
terima kasih :)
ReplyDelete