Hmmm.. hari
ini padahal saya ngantuk luar biasa. Tapi dari kemaren-kemaren pengen nulis.
Alhasil, nulis aja deh daripada tidur. Hehe. Alibi … :D
Saat ini,
tiba-tiba di kepala saya muncul sekelebat ingatan tentang ujian tengah semester
tiga. Sekitar akhir November 2011 lalu, membawa saya ke masa suram menjelang
ujian AKM (Akuntansi Keuangan Mengengah) atau bahasa kerennya Intermediate
Accounting. Banyak yang bilang AKM itu Automatic Killing Machine. Entah benar
atau tidak julukan tersebut, tapi aku merasa sangat takut saat itu untuk
mnghadapi ujian tersebut. Trus, tujuan kamu nulis ini apa sih Irda??? Mau kasi
sugesti negatif gitu? Atau pengen ngedoktrin bahwa AKM itu susah bin ribet?
Untuk
menjawabnya, baca aja dulu deh ya. Sebenarnya semua berawal dari seorang dosen
yang kami sekelas sepakat bahwa dia killer
abis. Dengan sistem mengajar yang sangat menegangkan plus tugas yang menggunung dengan waktu relatif singkat, disertai
ancaman DO (Drop Out) itu tentu sangat membuat kami was-was. Waktu itu
ceritanya saya gak selesai tugas yang diberinya, karena memang minggu itu saya
sedang punya beberapa hal lain yang harus dihandle.
Ada 7 orang teman yang senasib dengan saya saat itu. Dengan serta merta kami
diberi peringatan dan dicap sebagai mahasiswa yang tidak menjalankan tugas
sebagaimana mestinya. Lagi-lagi dia mengancam DO. Oke, dia berhasil membuat
saya layu dengan kalimat singkat, namun mematikan. DO bukan perkara sepele.
Sekalipun mungkin hanya ancaman agar kami lebih giat belajar, tapi buat saya
ini hal serius. Jika buat sebagian orang masuk ke kampus tempat saya belajar
ini mudah dan tidak masalah kalau di DO, sedang untuk saya sama saja dengan
menyakiti orang tua , abang dan kakak. Tidak ada kompromi untuk hal ini. Itulah
sebabnya saya benar-benar frustasi saat menjelang ujian AKM. Kala itu, saya dan
beberapa teman belajar bersama di kos. Bahkan mereka sampai menginap. Satu per
satu teman tumbang dan memilih tidur dulu. Sekarang tinggal berdua, seorang
teman masih ikut terjaga. Namun kemudian dia juga memutuskan untuk tidur dan
melanjutkan besok. Karena kami mendapat jadwal ujian jam 11. Jam ujian yang
sangat saya sukai. Tidak terlalu pagi, tidak terlalu siang.
Jam
menunjukkan pukul 02.30 pagi. Harusnya saya juga tidur. Tapi hati masih sangat
galau. Saya merasa belum benar-benar bisa menghadapi ujian. Saya pandangi wajah
teman-teman yang sedang tidur. Mungkin mereka sudah cukup tenang untuk besok.
Sedang saya, masih terngiang-ngiang kata-kata dosen itu. Saya benar-benar tidak
boleh menyerah. Sebelumnya saya juga sudah meminta doa orang tua beberapa kali
untuk AKM ini. Mungkin kapasitas otak saya yang tidak sampai. Entahlah. Tapi,
yang saya tahu Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan usaha hambanya, sekecil apapun
itu. Semua ada balasannya. Petikan ceramah Yusuf Mansur pun berputar-putar di
kepala saya bahwa jika DIA menghendaki sesuatu terjadi, terjadilah. Di bagian
lain dia juga menyebutkan bahwa tangan, mata, kaki, telinga yang tidak kita
minta saja diberi, apalagi untuk sesuatu yang kita minta. Masalahnya adalah
apakah kita sudah melibatkan Tuhan dalam segala urusan? Bahkan dalam sebuah
hadits qudsi ,”AKU (ALLAH) adalah sesuai dengan prasangka hambaku”.
Potongan
kalimat2 tersebut benar-benar menjadi kekuatan bagi saya. Dengan bermodal doa
orang tua dan keyakian akan pertolongan-NYA, saya putuskan untuk melebihkan
ikhtiar sampai hati tenang. Tidak peduli apa yang akan terjadi akibat begadang.
Yang penting saya bisa menjawab soal ujian, meski belum tentu benar. Yang ada
di pikiran saya saat itu hanyalah berusaha semaksimal mungkin. Urusan hasilnya
bagaimana, biarlah Tuhan. Saya hanya ingin menunjukkan pada Tuhan bahwa saya
serius ingin bisa dalam ujian mata kuliah ini. Lulus adalah harga mati bagi
saya.
Kemudian saya
buka slide Kiesso, kumpulan materi AKM dalam bahasa Inggris dengan format powerpoint.
Setiap lembarnya saya baca dan coba pahami dengan sungguh-sungguh. Jam terus
berjalan sampai mata pun terasa berat dan perih. Kepala mulai mendenyut karena
dipaksa menampung seabrek-abrek materi dalam beberapa jam. Tapi semua rasa sakit
itu tak lebih kuat dibanding keinginan untuk bisa menjawab soal ujian. Lebih
baik menangis saat ini daripada harus menangis di meja ujian. Wajah keluarga
pun terbayang-bayang. Mengingatkanku pada setiap nasehat mereka agar
menyelesaikan kuliah dengan baik. Adzan pun terdengar seolah ikut memberi spirit pada saya. Sejenak rehat dalam
shalat memohon kemudahan atas segala sisa usaha sebelum masuk ruang ujian.
Teman-teman mulai bangun. Mereka heran melihat saya yang belum tidur sama
sekali. Tapi mereka cukup mengerti posisi saya yang sedang berjuang untuk lepas
dari nilai buruk dari dosen killer karena
pernah tidak selesai tugas. Tepat jam 7 pagi saya putuskan untuk tidur
mengikuti nasehat salah seorang teman. Sarapan pagi pun sudah entah apa
rasanya. Perut seolah menolak. Mual. Setelah itu saya tidur sebentar, sekitar
45 menit. Badan tak tentu rasanya. Sakit, ngilu, tapi hati tenang luar biasa.
Tidak seperti sebelumnya gelisah. Saya rela begini. Saya tahu setelah ini saya
pasti roboh. Untung ujian besoknya tidak seberat hari ini.
Tibalah
saatnya. Saya buka lembar soal, saya kerjakan dengan hati-hati dan yakin. Hanya
itu modal saya. YAKIN. Yakin bahwa DIA akan memudahkan. Selepas ujian saya memprediksi
nilai 70an bisalah. Kalau pun lebih mungkin 80. Beruntung sekali itu pun
rasanya. Setidaknya aman. Dalam hati saya berucap, saya sudah berusaha
semampunya untuk ujian ini, saya pasrahkan hasilnya pada Tuhan. Terserah bapak
dosen mau kasi berapa, tapi saya punya keyakinan nilai saya aman, meski tidak
tahu berapa. Itulah yang saya rasakan. Dan sesampainya di kos, TEPAR. TUMBANG.
Tapi lega. Denyutan di kepala mulai terasa lagi, badan tidak bisa diajak
kompromi lagi, langsung tidur. Bahkan saya tidak bisa maksimal untuk ujian
besoknya, komputer. Sampai selesai ujian komputer pun masih terasa lemas. Baru
kali ini saya ujian seekstrim ini. Dan ketika pemberitahuan nilai ujian, saya shocked melihat hasilnya. Bagaimana
tidak, Tuhan memberi lebih dari yang saya harapkan. DIA menghadiahkan nilai 90.
Jauh dari yang saya perkirakan. Betapa sayangnya Tuhan pada kita. Seketika itu
saya benar-benar mendapat pelajaran berharga. Kalau kita yakin dan percaya akan
pertolongan-NYA serta melebihkan usaha semaksimal mungkin, insyaALLah seperti
apa yang kita yakini hasilnya. Tuhan langsung membayar kontan upaya kita. Saya
juga mendapat sebuah pemahaman bahwa sebenarnya Tuhan hanya ingin melihat
bagaimana usaha kita dalam mencapai sesuatu. Seserius apa kita ingin
mendapatkannya. Karena memang bukan yang paling tajam, tapi yang paling
bersungguh-sungguh. Begitu kata Ustad Salman dalam film Negeri 5 Menara. Karena
keberhasilan adalah hukum alam bagi mereka yang bersungguh-sungguh. Dan ini
berlaku terhadap dosen killer
sekalipun.
Satu pemahaman
lagi yang saya dapat bahwa seperti apapun tipe dosennya, toh yang memiliki
adalah Tuhan. DIA yang berkuasa membolak-balikkan hati manusia. Selama kita
selalu melibatkan-NYA dalam setiap langkah hidup kita dan dekat dengan-NYA, apa
mungkin DIA tidak mengabulkan apa yang diminta hamba yang dekat dengan-NYA???
Ya, itulah
sedikit pengalaman spiritual yang ingin saya bagi. Yang jelas jangan pernah
ragukan kekuasaan Tuhan. Sekecil apapun kebaikan pasti ada balasannya. Setiap
perjalanan hidup kita adalah pelajaran. Dan sampai saat ini kita masih terus belajar.
Oke. Sampai
di sini dulu. Semoga bermanfaat :) .
No comments:
Post a Comment