Friday, 30 March 2012

Automatic Killing Machine


Hmmm.. hari ini padahal saya ngantuk luar biasa. Tapi dari kemaren-kemaren pengen nulis. Alhasil, nulis aja deh daripada tidur. Hehe. Alibi … :D
Saat ini, tiba-tiba di kepala saya muncul sekelebat ingatan tentang ujian tengah semester tiga. Sekitar akhir November 2011 lalu, membawa saya ke masa suram menjelang ujian AKM (Akuntansi Keuangan Mengengah) atau bahasa kerennya Intermediate Accounting. Banyak yang bilang AKM itu Automatic Killing Machine. Entah benar atau tidak julukan tersebut, tapi aku merasa sangat takut saat itu untuk mnghadapi ujian tersebut. Trus, tujuan kamu nulis ini apa sih Irda??? Mau kasi sugesti negatif gitu? Atau pengen ngedoktrin bahwa AKM itu susah bin ribet?
Untuk menjawabnya, baca aja dulu deh ya. Sebenarnya semua berawal dari seorang dosen yang kami sekelas sepakat bahwa dia killer abis. Dengan sistem mengajar yang sangat menegangkan plus tugas yang menggunung dengan waktu relatif singkat, disertai ancaman DO (Drop Out) itu tentu sangat membuat kami was-was. Waktu itu ceritanya saya gak selesai tugas yang diberinya, karena memang minggu itu saya sedang punya beberapa hal lain yang harus dihandle. Ada 7 orang teman yang senasib dengan saya saat itu. Dengan serta merta kami diberi peringatan dan dicap sebagai mahasiswa yang tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Lagi-lagi dia mengancam DO. Oke, dia berhasil membuat saya layu dengan kalimat singkat, namun mematikan. DO bukan perkara sepele. Sekalipun mungkin hanya ancaman agar kami lebih giat belajar, tapi buat saya ini hal serius. Jika buat sebagian orang masuk ke kampus tempat saya belajar ini mudah dan tidak masalah kalau di DO, sedang untuk saya sama saja dengan menyakiti orang tua , abang dan kakak. Tidak ada kompromi untuk hal ini. Itulah sebabnya saya benar-benar frustasi saat menjelang ujian AKM. Kala itu, saya dan beberapa teman belajar bersama di kos. Bahkan mereka sampai menginap. Satu per satu teman tumbang dan memilih tidur dulu. Sekarang tinggal berdua, seorang teman masih ikut terjaga. Namun kemudian dia juga memutuskan untuk tidur dan melanjutkan besok. Karena kami mendapat jadwal ujian jam 11. Jam ujian yang sangat saya sukai. Tidak terlalu pagi, tidak terlalu siang.
Jam menunjukkan pukul 02.30 pagi. Harusnya saya juga tidur. Tapi hati masih sangat galau. Saya merasa belum benar-benar bisa menghadapi ujian. Saya pandangi wajah teman-teman yang sedang tidur. Mungkin mereka sudah cukup tenang untuk besok. Sedang saya, masih terngiang-ngiang kata-kata dosen itu. Saya benar-benar tidak boleh menyerah. Sebelumnya saya juga sudah meminta doa orang tua beberapa kali untuk AKM ini. Mungkin kapasitas otak saya yang tidak sampai. Entahlah. Tapi, yang saya tahu Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan usaha hambanya, sekecil apapun itu. Semua ada balasannya. Petikan ceramah Yusuf Mansur pun berputar-putar di kepala saya bahwa jika DIA menghendaki sesuatu terjadi, terjadilah. Di bagian lain dia juga menyebutkan bahwa tangan, mata, kaki, telinga yang tidak kita minta saja diberi, apalagi untuk sesuatu yang kita minta. Masalahnya adalah apakah kita sudah melibatkan Tuhan dalam segala urusan? Bahkan dalam sebuah hadits qudsi ,”AKU (ALLAH) adalah sesuai dengan prasangka hambaku”.
Potongan kalimat2 tersebut benar-benar menjadi kekuatan bagi saya. Dengan bermodal doa orang tua dan keyakian akan pertolongan-NYA, saya putuskan untuk melebihkan ikhtiar sampai hati tenang. Tidak peduli apa yang akan terjadi akibat begadang. Yang penting saya bisa menjawab soal ujian, meski belum tentu benar. Yang ada di pikiran saya saat itu hanyalah berusaha semaksimal mungkin. Urusan hasilnya bagaimana, biarlah Tuhan. Saya hanya ingin menunjukkan pada Tuhan bahwa saya serius ingin bisa dalam ujian mata kuliah ini. Lulus adalah harga mati bagi saya.
Kemudian saya buka slide Kiesso, kumpulan materi AKM dalam bahasa Inggris dengan format powerpoint. Setiap lembarnya saya baca dan coba pahami dengan sungguh-sungguh. Jam terus berjalan sampai mata pun terasa berat dan perih. Kepala mulai mendenyut karena dipaksa menampung seabrek-abrek materi dalam beberapa jam. Tapi semua rasa sakit itu tak lebih kuat dibanding keinginan untuk bisa menjawab soal ujian. Lebih baik menangis saat ini daripada harus menangis di meja ujian. Wajah keluarga pun terbayang-bayang. Mengingatkanku pada setiap nasehat mereka agar menyelesaikan kuliah dengan baik. Adzan pun terdengar seolah ikut memberi spirit pada saya. Sejenak rehat dalam shalat memohon kemudahan atas segala sisa usaha sebelum masuk ruang ujian. Teman-teman mulai bangun. Mereka heran melihat saya yang belum tidur sama sekali. Tapi mereka cukup mengerti posisi saya yang sedang berjuang untuk lepas dari nilai buruk dari dosen killer karena pernah tidak selesai tugas. Tepat jam 7 pagi saya putuskan untuk tidur mengikuti nasehat salah seorang teman. Sarapan pagi pun sudah entah apa rasanya. Perut seolah menolak. Mual. Setelah itu saya tidur sebentar, sekitar 45 menit. Badan tak tentu rasanya. Sakit, ngilu, tapi hati tenang luar biasa. Tidak seperti sebelumnya gelisah. Saya rela begini. Saya tahu setelah ini saya pasti roboh. Untung ujian besoknya tidak seberat hari ini.
Tibalah saatnya. Saya buka lembar soal, saya kerjakan dengan hati-hati dan yakin. Hanya itu modal saya. YAKIN. Yakin bahwa DIA akan memudahkan. Selepas ujian saya memprediksi nilai 70an bisalah. Kalau pun lebih mungkin 80. Beruntung sekali itu pun rasanya. Setidaknya aman. Dalam hati saya berucap, saya sudah berusaha semampunya untuk ujian ini, saya pasrahkan hasilnya pada Tuhan. Terserah bapak dosen mau kasi berapa, tapi saya punya keyakinan nilai saya aman, meski tidak tahu berapa. Itulah yang saya rasakan. Dan sesampainya di kos, TEPAR. TUMBANG. Tapi lega. Denyutan di kepala mulai terasa lagi, badan tidak bisa diajak kompromi lagi, langsung tidur. Bahkan saya tidak bisa maksimal untuk ujian besoknya, komputer. Sampai selesai ujian komputer pun masih terasa lemas. Baru kali ini saya ujian seekstrim ini. Dan ketika pemberitahuan nilai ujian, saya shocked melihat hasilnya. Bagaimana tidak, Tuhan memberi lebih dari yang saya harapkan. DIA menghadiahkan nilai 90. Jauh dari yang saya perkirakan. Betapa sayangnya Tuhan pada kita. Seketika itu saya benar-benar mendapat pelajaran berharga. Kalau kita yakin dan percaya akan pertolongan-NYA serta melebihkan usaha semaksimal mungkin, insyaALLah seperti apa yang kita yakini hasilnya. Tuhan langsung membayar kontan upaya kita. Saya juga mendapat sebuah pemahaman bahwa sebenarnya Tuhan hanya ingin melihat bagaimana usaha kita dalam mencapai sesuatu. Seserius apa kita ingin mendapatkannya. Karena memang bukan yang paling tajam, tapi yang paling bersungguh-sungguh. Begitu kata Ustad Salman dalam film Negeri 5 Menara. Karena keberhasilan adalah hukum alam bagi mereka yang bersungguh-sungguh. Dan ini berlaku terhadap dosen killer sekalipun.
Satu pemahaman lagi yang saya dapat bahwa seperti apapun tipe dosennya, toh yang memiliki adalah Tuhan. DIA yang berkuasa membolak-balikkan hati manusia. Selama kita selalu melibatkan-NYA dalam setiap langkah hidup kita dan dekat dengan-NYA, apa mungkin DIA tidak mengabulkan apa yang diminta hamba yang dekat dengan-NYA???
Ya, itulah sedikit pengalaman spiritual yang ingin saya bagi. Yang jelas jangan pernah ragukan kekuasaan Tuhan. Sekecil apapun kebaikan pasti ada balasannya. Setiap perjalanan hidup kita adalah pelajaran. Dan sampai saat ini kita  masih terus belajar.
Oke. Sampai di sini dulu. Semoga bermanfaat :) .


No comments:

Post a Comment